Monday, December 11, 2006
PENUTUP
Tapi, saya masih kurang 2 tugas lagi yaitu tugas UTS dan tugas UAS.
Entah kenapa, saya copy paste dari word trus ga bisa di publish...
Padahal tugas-tugas sebelumnya bisa.
Ada yang bisa bantu??
Jika ingin lihat file saya selengkapnya bisa download langsung disini :
http://rapidshare.com/files/7015387/tugas1_dan_2.pdf.html
http://rapidshare.com/files/7015986/Tugas_3_Indrawan_Praseto_0403020432.pdf.html
http://rapidshare.com/files/7016186/Tugas_4_Indrawan_Praseto_0403020432.pdf.html
http://rapidshare.com/files/7016292/tugas_CFD_5-Indrawan.pdf.html
http://rapidshare.com/files/7016446/Tugas_6_CFD_-_Indrawan_0403020432.pdf.html
http://rapidshare.com/files/7016875/Tugas_UTS_-_Indrawan_P_0403020432.pdf.html
http://rapidshare.com/files/7017385/Draft-_UAS_CFD_2006.pdf.html
Trus, saya mohon maaf atas terganggunya kenyamanan anda ketika membaca blog ini.
Sungguh, saya sangat awam dalam hal ini jadi yang muncul hanya tulisan saja..
Rumuspun tidak muncul, apalagi gambarnya.
Gimana yah biar bisa muncul satu file word gitu, tapi gambar dan rumusnya tidak
ketinggalan.
Jujur aja, kan susah kalo tiap gambar di Upload melulu.
Susah diongkos dan waktu.. hehehe maklum mahasiswa.
Sekian, blog dari saya
Atas kekurangannya saya mohon maaf.
Saran dan kritik dari anda sangat saya nantikan.
Indrawan Prasetyo
0403020432
DTM-FTUI
reverse6_9@yahoo.com
TUGAS - TUGAS 4,5 dan 6
TUGAS 4
Resume Kuliah minggu ke-4
Penggunaan software-software bertujuan untuk memudahkan kita dalam perhitungan dan melakukan pemodelan suatu sistem tertentu. Software FLOVENT yang kita lihat kemarin merupakan salah satu software yang digunakan untuk aplikasi CFD. Selain FLOVENT masih banyak software-software lain yang digunkan untuk aplikasi CFD. Tentu saja setiap software memiliki ciri khas atau karakteristik sendiri-sendiri.
FLOVENT memberikan gambaran bahwa bidang aplikasi CFD bisa diterapkan kedalam banyak bidang. Contohnya untuk desain suatu ventilasi di sebuah bangunan agar ruangan dalam bangunan tersebut mendapat udara yang cukup. Atau merancang sebuah ruangan untuk server-server dalam telekomunikasi dan menjaga agar suhu diruangan tersebut cukup ideal untuk menjaga kinerja server-server tersebut.
Penggunaan software adalah sebagai alat bantu bukan sebuah solusi. Karena solusi sebuah masalah berasal dari kita sebagai pengguna software tersebut. Bagaimana kita menentukan model simulasi apa yang dipakai, dan menentukan batasan dan parameter apa yang digunakan adalah bagian terpenting dari aplikasi CFD. Sebuah software tidak bisa memberikan solusi kepada kita. FLOVENT bisa memberikan simulasi bahwa suatu ruangan mengalami kelembaban yang sangat tinggi. Namun, FLOVENT tidak dapat memberikan solusi untuk mengurangi kelembaban tersebut. Solusi dari masalah tersebut adalah dari kita. Kitalah memberikan tambahan ventilasi di ruangan tersebut untuk mengurangi kelembaban yang ada, bukan FLOVENT.
Analisa dimensional adalah merupakan
korelasi antara hubungan satuan yang lain dengan satuan yang lain dengan mempertimbangkan parameter yang digunakan.
Analisa dimensional digunakan untuk membuat pemodelan dari analisis suatu masalah.
Pada CFD ada hukum kekekalan momentum yaitu :
momentum sumber gravitasi
konveksi
Prinsip dari kekekalan momentum ini sama dengan prinsip kekekalan yaitu :
fluks masuk - fluks keluar + sumber – resapan = laju akumulasi
TUGAS 5
STREAMLINES, PATHLINES dan STREAKLINES
Streamlines merupakan kurva yang berasal dari singgungan terhadap vektor kecepatan pada setiap titik di suatu aliran.
= Vektor kecepatan = Streamlines
Gambar 1. Streamlines
Gambar 2. Streamlines dalam bidang x,y,z
Persamaan dari Streamline adalah :
Jika komponen dari kecepatan ditulis dalam , kita memperoleh persamaan :
Dengan u,v dan w merupakan komponen kecepatan dalam bidang x,y dan z.
Dari persamaan ini menunjukkan bahwa kurva ini paralel dengan vektor kecepatan.
Pathlines merupakan lintasan dari suatu titik kecil yang terdapat pada suatu partikel fluida yang telah ditentukan.
Gambar 2. Pathlines
Persamaan untuk pathlines adalah :
Dimana merupakan kondisi awal.
Dari persamaan ini diperoleh bahwa dalam point x kurva tersebut paralel dengan vektor kecepatan pada waktu tertentu ketika x tercapai.
Streakline merupakan gabungan titik dari semua partikel sebuah fluida yang telah melewati suatu titik tertentu yang kemudian titik-titik disetiap partikel itu dihubungkan oleh sebuah garis.
Gambar 3. Streaklines
TUGAS 6
Pengaruh Jumlah dan Distribusi Grid pada Kasus Aliran Laminar Diantara Dua Plat Sejajar
I. Aliran Laminar Diantara Dua Plat Sejajar
I.1.Spesifikasi Aliran
Gambar 1 menunjukkan suatu kondisi aliran diantara dua plat tipis sejajar. Panjang plat didefinisikan sebesar L meter dan jarak diantaranya h meter. Kedua plat ini diletakkan horizontal dalam sebuah aliran dengan kecepatan konstan ke arah horizontal. Jika kecepatan alir tersebut kecil atau viskositas kinematiknya besar maka bilangan Reynoldsnya kecil. Jika hal ini terjadi pada aliran tersebut, maka aliran itu disebut aliran laminar.
Gambar 1. Aliran antara plat pararel
Untuk mempelajarinya lebih lanjut, kita asumsikan plat tersebut sangat tipis, sehingga aliran yang melaluinya tidak dipengaruhi oleh ketebalan plat. Kemudian, perhatian kita ditujukan pada aliran diantar kedua plat, bukan diatas ataupun dibawah plat. Dari hal tersebut, domain alirannya bisa kita ambil sebagai sebuah persegi panjang sederhana. Pada sisi kiri, kecepatan aliran seragam dengan arah horizontal dari kiri ke kanan, sehingga batas ini disebut inlet. Platnya didefinisikan sebagai tembok solid yang tetap sehingga kecepatannya sama dengan nol. Karena terdapat perlambatan aliran pada plat yang disebabkan oleh geseran akibat friksi, dan terbentuklah dua lapisan batas pada plat seperti pada gambar 1. Lapisan batas ini bertambah ketebalannya sepanjang plat dari kiri ke kanan. Pada akhir dari plat tersebut, aliran meninggalkan domain dan sisi kanan dari domain tersebut bisa didefinisikan sebagai outlet.
Gambar 2. Domain dengan kondisi boundary
Dari gambar 2 kita dapat melihat bahwa aliran tersebut adalah simetris, kemudian dengan membaginya menjadi dua akan memudahkan perhitungan. Pada gambar dibawah ini ditunjukkan domain persegipanjang dan empat jenis batas yang kita gunakan. Batas-batas tersebut adalah tembok solid pada sisi bawah dimana kecepatannya adalah nol, bidang simetris pada sisi atas dimana komponen kecepatan vertikalnya adalah nol dan turunan dari kecepatan horinzontal terhadap ketinggiannya juga nol, sebuah inlet dengan kecepatan horizontal yang seragam dari kiri ke kanan, dan sebuah outlet dengan tekanan seragam pada sisi kanan.
Kita juga harus menentukan nilai massa jenis dan viskositas. Untuk menyederhanakan permodelan, maka kita ρ sama dengan 1 kg/m3 dan µ sama 1 kg/m.s. Sehingga bilangan Reynoldsnya kita dapatkan
(1)
Pada akhirnya , aliran adalah simple shear flow dan tidak ada londisi batasan yang berubah terhadap waktu, ini beralasan untuk mengasmsikan aliran tidak berubah/ bervariasi terhadap waktu sehingga bisa disebut tunak / steady
I.2.Analisa Aliran
Dengan pemodelan CFD kita dapat melihat aliran yang berkembang penuh pada arah akhirnya. Aliran berkembang penuh Memiliki komponen horizontal dari kecepatan yang tidak berubah pada arah x dan komponen vertikal dari kecepatan sebesar nol. Jika aliran ini disimulasikan menggunakan grid yang sangat panjang pada arah x, maka kita bisa mendapatkan satu dimensi yang akan diturunkan sebagai berikut.
Ketika aliran berkembang penuh persamaan Navier-Stokes dapat disederhanakan. Jika aliran tersebut steady dan memiliki karakteristik kecepatan sebagai berikut, persamaan momentum pada arah x dapat didefinisikan sebagai
(2)
Dan persamaan momentum y dapat didefinisikan sebagai
(3)
Persamaan diatas yang pertama menjelaskan bahwa tekanan adalah fungsi dari x saja, dan ketika persamaan yang kedua diintegralkan terhadap y, turunan tekanan dapat dianggap konstan. Ini memberikan persamaan:
(4)
Dimana A adalah konstan atau fungsi dari x saja. Pengintegralan selanjutnya terhadap y akan menghasilkan persamaan :
(5)
Dimana B juga konstan atau merupakan fungsi dari x. Nilai A dan B dapat ditentukan dengan menetapkan kondisi batas kecepatan pada masing-masing plat. Kita mengetahui bahwa komponen kecepatan horizontal u adalah nol pada masing-masing plat atau dapat dituliskan u=0 pada y=0 dan y=h, dimana h adalah jarak antar plat sehingga persamaan menjadi :
Dengan memasukkan nilai dan B =0, ke persamaan 5 maka:
(6)
Yang menggambarkan profil kecepatan parabola
Akhirnya kita dapat menghitung aliran masuk dan keluarnya massa dari dan ke sistem. Untuk kecepatan inlet = 1m/s dan massa jenis 1kg/m3, aliran massa per unit area adalah konstan. Dengan mengintegralkan persamaan kecepatan (5), kita bisa mendapatkan aliran massa pada outlet sebagai berikut :
(7)
Persamaan (7) dapat disederhanakan untuk menghasilkan gradien tekanan sebagai berikut.
(8)
Persamaan (8) memungkinkan gradien tekanan dari aliran berkembang penuh didapatkan untuk setiap kecepatan alir massa, dan persamaan tersebut bisa digunakan pada persamaan (6) untuk mendapatkan profil kecepatan di aliran yang sama. Nilai-nilai ini bisa dibandingkan dengan nilai yang dihitung oleh program CFD. Untuk menguji keakuratan perhitungan CFD, maka menggunakan persamaan (5) yang disederhanakan menjadi ;
(9)
II.Permodelan Menggunakan FLUENT
II.1. Kasus
aliran laminar seragam dengan :
h = 1 m
L = 20 m
massa jenis =: 1 kg/m3
μ = 1 kg/ms
Dalam permodelan kita menentukan dulu domain yang kita buat. Input yang diberikan adalah panjang 20 m dan tinggi 0.5 m. Tinggi dibagi 2 karena batas atas kita buat menjadi simetri. Sehingga tinggi yang diperlukan hanya setengah dari yang seharusnya. Panjang i sel dibagi 51 dan j sel dibagi 11.
Kita tentukan batas-batas (zona) pada sel-sel domain kita. Domainnya berbentuk persegi panjang. Dengan inlet pada batas kiri dan outlet pada batas kanan. Sedangkan batas atas adalah simetri.
II.2.Jenis Grid
Bentuk grid yang kita gunakan ada 3 yaitu :
1.Grid 50x10 dirapatkan inletnya
Dengan faktor 0.05 ; konvergen pada Iterasi ke 127
Vektor Kecepatan
Vektor tekanan
Kontur kecepatan Kontur Tekanan
2.Grid 50x10 normal
konvergen pada Iterasi ke 101
Vektor Kecepatan
Vektor tekanan
Kontur Kecepatan Kontur Tekanan
3.Grid 50x15
konvergen pada Iterasi ke 186
Vektor Kecepatan
Vektor Tekanan
Kontur Kecepatan Kontur Tekanan
II.3. Analisa
Jika kita perbandingkan, ketiga permodelan ini. Yang membedakan hanyalah grid pada model 1 lebih rapat distribusi gridnya pada inlet, sehingga bisa terlihat vektor dan kontur pada model 1 ini lebih rapat jaraknya. Sehingga perubahan kecepatan dan tekanan lebih banyak terjadi pada model 1.Sedangkankan pada model 2 distribusi grid tidak ada perubahan. Sehingga vektor dan konturnya memiliki jarak relatif sama. Jika kita melihat pada model 1 maka perubahan kontur terlihat bergeser ke kiri daripada model 2 karena didaerah dekat inlet memiliki grid lebih rapat. Perubahan distribusi grid akan mengakibatkan kerapatan nilai akan berubah sehingga hanya dibagian grid yang rapat itulah nilai akan lebih teliti ketimbang bagian yang gridnya renggang. Untuk model 3 yaitu jika jumlah grid ditambahkan untuk garis vertikal (sumbu j pada fluent) maka vektor terlihat lebih rapat pada sumbu vertikal sehingga perubahan nilai akan lebih terlihat karena titik yang diamati lebih banyak.Sehingga perubahan distribusi grid dan perubahan jumlah grid akan berpengaruh pada tingkat ketelitian perhitungan. Perubahan distribusi grid akan mengakibatkan nilai –nilai yang diteliti akan berpusat pada distribusi grid paling rapat, sehingga range nilai yang diperoleh lebih presisi. Menentukan distribusi grid tergantung dari posisi mana yang banyak terjadi perubahan aliran fluida, sehingga perubahan-perubahan fluida itu dapat diperhatikan lebih teliti dibandingkan dengan bagian dimana fluida tersebut sudah fully develop. Perubahan jumlah grid akan mengakibatkan nilai-nilai yang diteliti akan lebih banyak sehingga perhitungan lebih akurat dan memperoleh lebih banyak sampel. Diharapkan dengan menambah jumlah grid titik-titik sampel yang diambil lebih banyak sehingga error akan dapat dikurangi.
II.4. Validasi
Untuk memeriksa validasi perhitungan dari FLUENT maka diperlukan perbandingan antara perhitungan yang dilakukan oleh FLUENT dengan perhitungan yang dilakukan secara analitis. Perhitungan analitis menggunakan persamaan 9.
Dibawah ini akan diberikan perbandingan antara perhitungan numerik yang diperoleh dari FLUENT dan perhitungan analitik yang diperoleh dengan menggunakan persamaan 9. Nilai y merupakan node sumbu j sebanyak 10 data yang telah ditentukan sebelumnya. Data diolah menggunakan Microsoft Excel. Selanjutkan terdapat grafik yang menggambarkan kurva pada data Numerik dengan data Analitik.
II.4.1. Grid 50x10 dirapatkan pada inlet
| y | Numerik | Analitik |
| 0.00E+00 | 0.00E+00 | 0.00E+00 |
| 5.56E-02 | 3.17E-01 | 3.15E-01 |
| 1.11E-01 | 5.96E-01 | 5.93E-01 |
| 1.67E-01 | 8.36E-01 | 8.33E-01 |
| 2.22E-01 | 1.04E+00 | 1.04E+00 |
| 2.78E-01 | 1.20E+00 | 1.20E+00 |
| 3.33E-01 | 1.32E+00 | 1.33E+00 |
| 3.89E-01 | 1.41E+00 | 1.43E+00 |
| 4.44E-01 | 1.46E+00 | 1.48E+00 |
| 5.00E-01 | 1.48E+00 | 1.50E+00 |
II.4.2. Grid 50x10 normal
| y | Numerik | Analitik |
| 0.00E+00 | 0.00E+00 | 0.00E+00 |
| 5.56E-02 | 3.18E-01 | 3.15E-01 |
| 1.11E-01 | 5.97E-01 | 5.93E-01 |
| 1.67E-01 | 8.37E-01 | 8.33E-01 |
| 2.22E-01 | 1.04E+00 | 1.04E+00 |
| 2.78E-01 | 1.20E+00 | 1.20E+00 |
| 3.33E-01 | 1.32E+00 | 1.33E+00 |
| 3.89E-01 | 1.41E+00 | 1.43E+00 |
| 4.44E-01 | 1.46E+00 | 1.48E+00 |
| 5.00E-01 | 1.48E+00 | 1.50E+00 |
II.4.3. Grid 50x15 normal
| y | Numerik | Analitik |
| 0.00E+00 | 0.00E+00 | 0.00E+00 |
| 3.57E-02 | 2.15E-01 | 2.07E-01 |
| 7.14E-02 | 4.14E-01 | 3.98E-01 |
| 1.07E-01 | 5.94E-01 | 5.74E-01 |
| 1.43E-01 | 7.57E-01 | 7.35E-01 |
| 1.79E-01 | 9.00E-01 | 8.80E-01 |
| 2.14E-01 | 1.03E+00 | 1.01E+00 |
| 2.50E-01 | 1.13E+00 | 1.13E+00 |
| 2.86E-01 | 1.22E+00 | 1.22E+00 |
| 3.21E-01 | 1.30E+00 | 1.31E+00 |
| 3.57E-01 | 1.36E+00 | 1.38E+00 |
| 3.93E-01 | 1.40E+00 | 1.43E+00 |
| 4.29E-01 | 1.44E+00 | 1.47E+00 |
| 4.64E-01 | 1.46E+00 | 1.49E+00 |
| 5.00E-01 | 1.46E+00 | 1.50E+00 |
Kesimpulan
Dari grafik perbandingan antara perhitungan numerik dengan perhitungan analitik ternyata perbedaan atau simpangan yang ada tidak terlalu jauh. Artinya perhitungan yang dilakukan oleh CFD dapat dijadikan acuan. Dari grafik yang ditampilkan dari tiga model grid diatas. Terlihat bahwa penyimpangan terjadi ketika jarak berada pada nilai akhir atau berada di titik tengah dimana kecepatan semakin tinggi. Sementara pada jarak-jarak awal atau ketika kecepatan rendah nilai numerik dan nilai analitik terdapat perbedaan yang kecil.
TUGAS - TUGAS 1,2 dan 3
TUGAS 1
Deskripsi fenomena aliran fluida dan kalor.
Fluida terbagi dalam :
Newtonian Fluid
Perbedaan kedua fluida ini berdasarkan oleh pemikiran Isaac Newton yang menunjukkan bahwa stress di layer pada beberapa fluida, seperti air dan udara sebanding dengan perubahan strain terhadap waktu. Hubungan antara stress dan strain ini yaitu berupa koefisien yang disebut viscositas. Newtonian fluid ini mengikuti hukum Newton :
Dimana τ = shear stress, µ=viscositas, =rate of strain
Non-newtonian Fluid
Sementara itu non-newtonian fluid adalah fluida yang tidak mengikuti hukum tersebut. Sehingga memiliki aliran fluida yang berbeda. Contohnya lumayan banyak, seperti semen, gula, mentega atau mayonese. Pada non-newtonian fluid menggunakan persamaan Hirschel dan Bulkeley, yaitu:
K=keofisien konsistensi ,=yield stress dan n = power.
Pada Newtonian fluid, persamaan ini memiliki nilai K=, =0, dan n=1 maka diperoleh persamaan.
Non-newtonian fluid ini dibagi dengan beberapa jenis yaitu:
Bingham plastic,
Merupakan kondisi yang unik dikarenakan, fluida ini memiliki karakteristik yang sama dengan newtonian fluid kecuali eksisten dari yield stress-nya. Dimana n=1, dan K adalah plastic viscosity. Maka persamaan menjadi . Beberapa contoh fluida jenis ini adalah beberapa bahan masak yang memiliki lemak tinggi seperti mentega, butter, cokelat dan mayonese.
Dilatent fluid,
Pada dilatent fluid nilai meningkat karena n>1 dan =0, sehingga viscosity akan berkurang. Contohnya adalah enceran gula.
Pseudo plastic,
Pada Pseudo plastics nilai menurun karena n<1>=0, sehingga nilai viscosity akan meningkat. Contohnya adalah clay dan semen.
Aliran yang terjadi pada Newtonian fluid biasa ditentukan dengan menggunakan bilangan Reynolds.
Laminar flow
Laminar flow memiliki bilangan Reynolds kurang dari 2300. Laminar flow adalah fluida yang memiliki aliran yang paralel dengan streamline-nya. Sehingga antara fluida dan streamline tidak terjadi percampuran. Laminar flow ini terjadi pada fluida yang memiliki kecepatan rendah.
Turbulen flow
Pada turbulen flow, bilangan Reynolds yang dimiliki adalah lebih dari 2300. Jika fluida diberikan kalor maka molekul pada fluida akan bergerak dengan cepat sehingga mengakibatkan naiknya kecepatan pada fluida tersebut dan mengakibatkan naiknya bilangan Reynolds. Turbulen flow ini mengakibatkan terjadinya percampuran antara fluida dengan streamline-nya sehingga terjadi aliran acak yang disebut turbulen.
TUGAS 2. resume kuliah
Selasa 12/09/06
Dalam CFD (Computational Fluids Dynamic) terdapat 3 prinsip yang fundamental yaitu :
mass is conserved (Hukum kekekalan massa)
Newton second Law
Energy is conserved (Hukum kekekalan energi)
Selain Fluids Dynamic juga ada Fluids Static yaitu menganggap fluids sebagai rigid body dengan ΣF=0.
F adalah gaya atau sesuatu yang membuat benda bergerak.
Bilangan Reynolds
Dalam Fluida dikenal Bilangan Reynolds yang digunakan untuk menentukan aliran fluida tersebut laminar atau turbulen. Bilangan Reynolds merupakan rasio dari gaya Inersia dengan gaya viscous. Bilangan Reynolds disebut juga bilangan tanpa dimensi. Gaya Inersia menunjukkan tingkat kelebaman, keadaan benda untuk mempertahankan posisinya, suatu benda/fluida.
Formula dari Bilangan Re :
vs – kecepatan fluida
L – panjang pipa
μ – fluid viscocity
ν – kinematik viscosity: ν = μ / ρ,
ρ – densitas fluida
Untuk menentukan aliran fluida apakah laminar atau turbulen maka ditetapkan bahwa untuk nilai Re 2300 sebagai batas bilangan laminar atau turbulen. Jika lebih dari 2300 maka aliran fluida dikatakan turbulen, dan jika kurang dari 2300 dikatakan aliran fluida laminar. Tapi sebagian orang menyebut range antara 2300 hingga 4000 sebagai aliran transisi. Sehingga jika lebih dari 4000 merupakan aliran turbulen.
Dalam fluida juga dikenal rumus Bernoulli yang biasa digunakan untuk mencari pressure drop pada pipa dari ujung satu ke ujung yang lain.
Rumus Bernoulli digunakan untuk dua jenis aliran yaitu aliran compressible dan aliran incompressible :
Untuk aliran incompressible digunakan rumus :
v = kecepatan fluida sepanjang streamline
g = percepatan gravitasi
h = tinggi pipa
p = tekanan sepanjang streamline
ρ = densitas fluida
Untuk aliran compressible menggunakan rumus :
= Energi potensial gravitasi per massa,
= entalpi fluida per massa,
= energi thermodynamic dari fluida per massa.
Kamis 14/09/06
CFD Modelling
Model adalah Representasi dari kondisi factual (sebenarnya) yang disederhanakan dengan mengurangi kompleksitas yang ada dengan mengabaikan factor-faktor yang tidak berpengaruh dan hanya memakai factor-faktor yang diperlukan saja.
Skemanya terdiri dari :
CFD adalah pemanfaatan komputer untuk menghasilkan informasi mengenai fluida yang mengalir pada kondisi tertentu. CFD juga dapat membuat prediksi aliran fluida dalam suatu sistem dengan kondisi yang ditentukan. Selain itu CFD lebih murah dan informatif daripada menggunakan eksperimen yang terbentur pada kemampuan alat ukur dan ketersediaan alat.
CFD merupakan salah satu penyelesaian dalam teknik. Penyelesaian dalam teknik ada dua metode yaitu dengan simulasi dan dengan eksperimen. Kedua metode itu bersifat komplementer atau saling melengkapi.
Terdapat beberapa jenis aliran fluida, yaitu :
aliran viskos dan inviscid
aliran mampu mampat dan tak mampu mampat
aliran laminar dan turbulen
Untuk aliran viskos dan inviscid ditentukan oleh tegangan geser dari fluida.
Tegangan geser terjadi karena adanya pergeseran dari partikel fluida terhadap permukaan benda. Sehingga untuk fluida yang berada dalam pipa, maka tegangan geser terbesar yang terjadi pada fluida sebanding dengan gradien kecepatan yang terbesar pada fluida tersebut, yaitu pada permukaan pipa dengan fluida.
y (jarak)
u (kecepatan)
Hubungan antara tegangan, viskositas, kecepatan dan jarak adalah sebagai berikut.
Dimana μ=viskositas suatu fluida, τ=tegangan geser, adalah gradien kecepatan.
Dari persamaan diatas menunjukkan bahwa gradient kecepatan sebanding dengan tegangan geser suatu fluida. Contoh kasus yang terjadi adalah aliran fluida pada sungai dimana gradient kecepatan yang tebesar terjadi pada bagian pinggir sungai dibandingkan dengan bagian tengah aliran sungai. Sehingga tegangan terbesar terjadi pada fluida yang berada di pinggir sungai.
Kesimpulannya :
Pada aliran fluida viscous τ tinggi, karena gradien kecepatan juga tinggi
Pada aliran fluida inviscid τ sangat rendah, gradient kecepatan juga rendah sehingga viskositas juga rendah. Akiran ini dapat mengalir tanpa hambatan terhadap permukaan apapun.
Resume Kuliah minggu ke-3
Perpindahan panas yang terjadi untuk :
T1
T T2
2
T 1 dimensi 2 dimensi
1
T2
T1
3 dimensi
Perpindahan panas yang terjadi pada satu dimensi, terjadi hanya satu arah (sumbu x)saja dari ujung kawat ke ujung kawat yang lain.
Sementara pada 2 dimensi, perpindahan panas yang terjadi, menjadi dua arah (Sumbu x dan sumbu y). Panas menyebar mengisi area pada plat tersebut.
Pada 3 dimensi, perpindahan panas terjadi lebih banyak lagi. Panas berpindah ke 3 arah (sumbu x,y dan z)sehingga akan mengisi volum benda tersebut.
Pada dasarnya perpindahan panas terjadi dalam 3 dimensi. Hanya saja, tergantung dari bentuk penampang saja. Pada contoh, perpindahan panas untuk satu dimensi yang terjadi pada kawat yang panjang. Panas hanya bisa berpindah secara bebas ke arah sumbu x saja. Karena arah pada sumbu y dan sumbu z, daerah perpindahan panasnya terbatas. Sehingga panas berpindah lebih dominan ke arah sumbu x, karenanya disebut perpindahan panas dalam 1 dimensi.
Terdapat prinsip umum dalam fisika yang berguna dalam penggunaan CFD, yaitu Hukum Kekekalan Energi. Dimana, energi tidak dapat dihancurkan atau diciptakan tetapi hanya dapat berubah bentuk.
Prinsip Kekekalan :
Angkutan skalar : fluks masuk - fluks keluar + sumber – resapan = laju akumulasi
Angkutan momentum : fluks masuk - fluks keluar + Gaya netto = laju akumulasi
C Sødx
ontrol Volume
Δx ρuø Jø ρuø+d (ρµø) Jø+d(Jø)
Pada control volume ini terjadi hukum kekekalan energi dimana :
fluks masuk - fluks keluar + sumber – resapan = laju akumulasi
(- ρuø – Jø) + [ρuø+d (ρuø) + Jø+d(Jø)]+ Sødx =
PEMBUKAAN dari yang buat
NPM : 0403020432
Departemen Teknik Mesin
Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Ini blog isinya tentang tugas-tugas kuliah CFD selama semester 7.
Tapi berhubung sayanya masih gaptek buat bikin website jadinya bikin di blog.
Masalahnya, yang bisa nongol masih terbatas.
Jadi inilah website tugas saya...
Kepada Pak Dr. Ir. Ahmad Indra S., MEng
Yang akan menunaikan ibadah haji.
Semoga menjadi yang haji mabrur.
Kami semua mendoakan Bapak...